Selamat datang, terima kasih atas kunjungannya. Salam perdamaian

Kegiatan Kepramukaan

Sebelum pelatihan kepramukaan dimulai terlebih dahulu diadakan apel pembukaan.Dan setelah pelatihan juga diadakan apel penutupan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat sore.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kegiatan Kepramukaan

Sebelum pelatihan kepramukaan dimulai terlebih dahulu diadakan apel pembukaan.Dan setelah pelatihan juga diadakan apel penutupan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat sore.

Kegiatan Kepramukaan

Sebelum pelatihan kepramukaan dimulai terlebih dahulu diadakan apel pembukaan.Dan setelah pelatihan juga diadakan apel penutupan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat sore.

Informasi PPDB 2016/2017

PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

DINAS  PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMP 3 WONOSARI GUNUNGKIDUL
Jln. Baron Km. 6 Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta 55801

 

INFORMASI PENERIMAAN CALON PESERTA DIDIK  BARU (PPDB)
SMP N 3  WONOSARI TAHUN  PELAJARAN  2016 / 2017


I.       WAKTU   PENDAFTARAN : 
³ Pendaftaran akan dilaksanakan pada Tanggal  27, 28  dan 29 Juni  2016  dari pukul 08:00 WIB sampai pukul 14:00 WIB
³ Daya tamping yang diterima 6 (enam) kelas sebanyak 192 peserta didik (jika kelas 7 tahun pelajaran 2015/2016 naik kelas semua)
II.          SYARAT – SYARAT  PENDAFTARAN :
a.    Menyerahkan nilai US/M SD/Program Paket A  Asli dan menyerahkan foto copy nilai US/M SD dan foto copy  SD / SDLB / SLB Tingkat Dasar / MI / Ijasah Program Paket A / Surat Keterangan yang berpenghargaan sama yang  telah  disyahkan oleh  Kepala Sekolah  atau  Pejabat yang berwenang  masing-masing 1 (satu )  lembar. Berkas yang diminta sebelum pengumuman dianggap mengundurkan diri.
b.   Menyerahkan Pas Photo Hitam Putih terbaru  Ukuran  3  x  4  Cm  sebanyak  3 (tiga)  lembar. ( 2 lembar di pasang pada formulir pendaftaran, 1 lembar diserahkan bersama berkas)
c.     Berusia setinggi-tingginya  18  tahun terhitung pada tanggal 18 Juni  2016.
d.  Menyerahkan Surat bukti penghargaan prestasi minimum tingkat kabupaten (bagi yang memiliki ) yang telah diketahui Kepala Dinas Pendidikan setempat.
Jika pendaftar berasal dari luar Kabupaten Gunungkidul maka penghargaan minimal tingkat Provinsi, dan jika berasal dari luar DIY, penghargaan minimal tingkat nasional.
e.  Bagi calon peserta didik baru dari luar wilayah Kabupaten Gunungkidul/DIY disertai rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota asal, serta Surat Keterangan Kelakuan Baik dan Bebas dari Narkoba dari Kepala Sekolah.
f.      Foto copy Akta Kelahiran sebanyak 1 (satu) lembar.
g.  Mengisi formulir pendaftaran (  2  lembar  )  yang disediakan oleh sekolah.( harus dituliskan Nomor Peserta Ujian dan NISN )
h.      Semua berkas dimasukkan ke dalam  Stop  Map  Merah untuk putri dan Biru untuk putra yang disediakan oleh Sekolah.
III.       SELEKSI :
³ Seleksi nilai US/M SD/MI adalah meranking nilai dari  3 (tiga) mata pelajaran : Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA (tanpa tes) dilaksanakan pada hari Rabu, 29 Juni 2016  setelah waktu pendaftaran berakhir.
³ Jika ada beberapa Calon Peserta Didik Baru mempunyai jumlah nilai US/M sama, maka akan dibandingkan jumlah nilai ijasah atau nilai raport kelas 6 semester 2 khusus 3 (tiga) maple US/M.
³ Apabila  nilai US/M SD/MI Asli dicabut sebelum pengumuman mana Calon Peserta Didik Baru tersebut dianggap mengundurkan diri sehingga tidak ikut diranking.
³ Calon peserta didik baru dari luar wilayah kabupaten Gunungkidul diatur sebagai berikut: Luar Negeri maksimum 5 %, Luar Propinsi maksimum 20 %, dan Luar Kabupaten maksimum 20 %
IV.       PENGUMUMAN  HASIL  SELEKSI:
Hasil  seleksi akan diumumkan pada hari :  Kamis, 30 Juni 2016 pukul 09:00 WIB
V.          PENDAFTARAN  ULANG:
Pendaftaran ulang bagi peserta didik baru yang dinyatakan diterima tanggal 1 dan 2 Juli 2016, jam 08.00 – 14.00 dan untuk hari Jum’at jam 08.00 – 11.00 WIB.
Bagi calon peserta didik  yang dinyatakan diterima tetapi tidak melakukan daftar ulang sampai dengan tanggal  2  Juli  2016  pukul  14.00  WIB,  dinyatakan  gugur dan tempatnya diberikan kepada calon siswa  cadangan.
Demikian pengumuman ini disampaikan agar menjadikan periksa.
                                                       Wonosari,   1   Juni   2016                                                                                                                           Kepala  Sekolah


                                                                                               
                                                        Mulyadi, S.Pd.                                                                                   
                                                        NIP  10621108 1986011003
 Download :
Google Drive       atau    4shared

Sejarah dan Asal Usul Keris Dan Kegunaannya

Keris adalah sejenis pedang pendek yang berasal dari pulau Jawa, Indonesia.
Keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan 14. Selain digunakan sebagai senjata,keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Keris terbagi menjadi tiga bagian yaitu mata, hulu, dan sarung. Beberapa jenis keris memiliki mata pedang yang berkelok-kelok. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.
Keris sendiri sebenarnya adalah senjata khas yang digunakan oleh daerah-daerah yang memiliki rumpun Melayu atau bangsa Melayu.Pada saat ini, Keberadaan Keris sangat umum dikenal di daerah Indonesia terutama di daerah pulau Jawa dan Sumatra, Malaysia, Brunei, Thailand dan Filipina khususnya di daerah Filipina selatan (Pulau Mindanao). Namun, bila dibandingkan dengan Indonesia dan Malaysia, keberadaan keris dan pembuatnya di Filipina telah menjadi hal yang sangat langka dan bahkan hampir punah.

Tata cara penggunaan keris juga berbeda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang. Sementara di Sumatra, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan. Sebenarnya keris sendiri memiliki berbagai macam bentuk, ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus seperti di daerah Sumatera. Selain itu masih ada lagi keris yang memliki kelok tunggal seperti halnya rencong di Aceh atau Badik di Sulawesi.

Bagian-bagian keris
Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu wrangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.








* Pegangan keris
Pegangan keris ini bermacam-macam motifnya , untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia .Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu. Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.

* Wrangka atau Rangka
Wrangka, rangka atau sarung keris adalah bagian (kelengkapan) keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, karena bagian wrangka inilah yang secara langsung dilihat oleh umum . Wrangka yang mula-mula (sebagian besar) dibuat dari bahan kayu (jati , cendana, timoho , kemuning, dll) , kemudian sesuai dengan perkembangan zaman maka terjadi perubahan fungsi wrangka (sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya ). Kemudian bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. Secara garis besar terdapat dua macam wrangka, yaitu jenis wrangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong dan gandek. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa (kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).


* Wilah
Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagianbagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll. Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.
Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacammacam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.
Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija ,atau keris tidak lazim .

Sejarah Asal keris
Sejarah Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. Relief candi di Jawa lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur Indianya. Keris Budha dan pengaruh India-Tiongkok Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Budha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris. Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sultan Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya. Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.

Keris "Modern"
Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kerajaan Mataram baru (abad ke-17-18). Pemerhati dan kolektor keris lebih senang menggolongkannya sebagai "keris kuno" dan "keris baru" yang istilahnya disebut nem-neman ( muda usia atau baru ). Prinsip pengamatannya adalah "keris kuno" yang dibuat sebelum abad 19 masih menggunakan bahan bijih logam mentah yang diambil dari sumber alam-tambang-meteor ( karena belum ada pabrik peleburan bijih besi, perak, nikel dll), sehingga logam yang dipakai masih mengandung banyak jenis logam campuran lainnya, seperti bijih besinya mengandung titanium, cobalt, perak, timah putih, nikel, tembaga dll. Sedangkan keris baru ( setelah abad 19 ) biasanya hanya menggunakan bahan besi, baja dan nikel dari hasil peleburan biji besi, atau besi bekas ( per sparepart kendaraan, besi jembatan, besi rel kereta api dll ) yang rata-rata adalah olahan pabrik, sehingga kemurniannya terjamin atau sedikit sekali kemungkinannya mengandung logam jenis lainnya. Misalkan penelitian Haryono Arumbinang, Sudyartomo dan Budi Santosa ( sarjana nuklir BATAN Yogjakarta ) pada era 1990, menunjukkan bahwa sebilah keris dengan tangguh Tuban, dapur Tilam Upih dan pamor Beras Wutah ternyata mengandung besi (fe) , arsenikum (warangan )dan Titanium (Ti), menurut peneliti tersebut bahwa keris tersebut adalah "keris kuno" , karena unsur logam titanium ,baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat terbang, pesawat luar angkasa) ataupun roket, jadi pada saat itu teknologi tersebut belum hadir di Indonesia. Titanium banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan dan juga Sulawesi. Dari 14 keris yang diteliti , rata-rata mengandung banyak logam campuran jenis lain seperti cromium,stanum, stibinium, perak, tembaga dan seng, sebanyak 13 keris tersebut mengandung titanium dan hanya satu keris yang mengandung nikel. Keris baru dapat langsung diketahui kandungan jenis logamnya karena para Mpu ( pengrajin keris) membeli bahan bakunya di toko besi, seperti besi, nikel, kuningan dll. Mereka tidak menggunakan bahan dari bijih besi mentah ( misalkan diambil dari pertambangan ) atau batu meteorit , sehingga tidak perlu dianalisis dengan isotop radioaktif. Sehingga kalau ada keris yang dicurigai sebagai hasil rekayasa , atau keris baru yang berpenampilan keris kuno maka penelitian akan mudah mengungkapkannya.

Keris Pusaka terkenal
Keris Mpu Gandring
Keris Pusaka Setan Kober
Keris Kyai Sengkelat
Keris Pusaka Nagasastra Sabuk Inten
Keris Kyai Carubuk
Keris Kyai Condong Campur

sumber: http://blognyajose.blogspot.com/2010/01/mengenal-keris-dan-kegunaannya.html

Bagindo Azizchan

Bagindo Azizchan
Bagindo Azizchan

Bagindo Azizchan merupakan Wali Kota Padang kedua setelah kemerdekaan, yang dilantik pada tanggal 15 Agustus 1946 menggantikan Mr. Abubakar Jaar. Beliau lahir di Padang, Sumatera barat pada 30 September 1910 dan meninggal di Padang, 19 Juli 1947 pada umur 36 tahun.

Bagindo Azizchan mengenyam pendidikan HIS di Padang, MULO di Surabaya, dan AMS di Batavia. Tamat dari AMS dan sempat dua tahun duduk di Rechtshoogeschool te Batavia (RHS), ia sempat membuka praktik pengacara dan aktif di beberapa organiasi, di antaranya sebagai anggota pengurus Jong Islamieten Bond di bawah pimpinan Agus Salim.

Pada tahun 1935 Ia  Kembali ke kampung halamannya dan mengabdi sebagai guru di beberapa sekolah di Padang dan berkali-kali pindah mengajar ke luar kota. Ia sempat aktif di Persatuan Muslim Indonesia (Permi) sampai organisasi itu dibubarkan pada tahun 1937.

Setelah proklamasi kemerdekaan, ia ditunjuk sebagai Wakil Wali Kota Padang pada 24 Januari 1946 dan pada 15 Agustus 1946 dilantik sebagai wali kota menggantikan Mr. Abubakar Jaar, yang pindah tugas menjadi residen di Sumatera Utara.

Padang pada 10 Oktober 1945, di tengah situasi pasca-kedatangan Sekutu di, ia menolak tunduk terhadap kekuatan militer Belanda yang berada di belakang tentara Sekutu. Ia terus melakukan perlawanan dengan menerbitkan surat kabar perjuangan yang bernama Republik Indonesia Jaya, bahkan turun langsung memimpin perlawanan terhadap Belanda sampai akhirnya meninggal pada tanggal 19 Juli 1947.

Meninggal dunia

Setelah terlibat pertempuran melawan Belanda tersebut Ia meninggal pada 19 Juli 1947 dalam usia 36 tahun. Jasadnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi. Gelar Pahlawan Nasional Indonesia telah disematkan kepadanya pada 9 November 2005 melalui Keppres No. 82/TK/2005

Menurut hasil visum (yang dilakukan di Rumah Sakit Tentara Dr. Reksodiwiryo, Ganting sekarang), ia meninggal karena terkena benda tumpul dan terdapat tiga bekas tembakan di wajahnya.

Penghormatan

Untuk menghormati jasa-jasa dan pengorbanannya, namanya diabadikan menjadi nama jalan di beberapa kota, seperti Padang dan Bukittinggi. Di Padang, sebuah monumen berbentuk kepalan tinju didirikan di persimpangan Jalan Gajah Mada dan Jalan Jhoni Anwar, Kampung Olo, Nanggalo. Meskipun diresmikan sebagai Monumen Bagindo Azizchan oleh Wali Kota Padang Syahrul Ujud pada 19 Juli 1983, monumen ini lebih dikenal dengan nama Tugu Simpang Tinju. Monumen lainnya, terletak di Taman Melati (kompleks Museum Adityawarman), hasil karya pelukis Wisran Hadi dan pemahat Arby Samah.

Penghargaan

Bagindo Azizchan juga menerima penganugerahan gelar Bintang Mahaputra Adiprana yang merupakan penghargaan tertinggi di negara kita.

Andi Mappanyukki



Andi Mappanyukki adalah seorang anak bangsawan murni yang lahir di Jongaya tahun 1885. Ayahnya seorang Raja bernama  I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tu Lengkura ri Bundu`na Raja Gowa ke-34. Sedangkan Ibunya adalah I Cella We tenri pada Arung Alita putri La Renrengi Ahmad Saleh arumpu Raja Bone Ke-27.
Baru menginjak usia 16 tahun Andi Mappanyuki diangkat menjadi Datu Suppa. Yaitu salah satu kerajaan yang tergabung dalam lima kerajaan Ajattappareng.
Awal perjuangan
Sejak berusia 20 tahun, ia mengangkat senjata untuk berperang mengusir penjajah Belanda. Ia berjuang membela Kerajaan Gowa di daerah Gunung Sari. Dalam pertempuran, pasukan Gubernur Jenderal Belanda Kroesen menggempur pasukan pimpinan Andi Mappanyuki yang mengakibatkan 23 orang pasukannya gugur. Pada 25 Desember 1905 pasukan Andi Mappanyuki melakukan serangan balik dan berhasil menangkap pimpinan pasukan Belanda Vande Kroll yang kemudian ditembak mati.
Belanda mengejar Raja Gowa I Makkulau, saat dalam keadaan terdesak Baginda terjatuh ke jurang dan menemui ajalnya. Kematian ayahnya membuat Andi Mappanyuki masuk hutan untuk melakukan perlawanan. Belanda melakukan segala upaya untuk menangkap Andi Mappanyuki walau usaha itu sering kali gagal .
Pemerintah Hindia Belanda mengirim utusan La Parenrengi Karaeng Tinggimae yang ditugaskan membujuk Andi Mappanyuki agar bersedia melakukan perundingan dan mengakhiri perang serta menawarkan jika berhasil, maka Gowa akan dijadikan sekutu terhormat. Tawaran tersebut tidak merubah pendiriannya yang kemudian suatu saat Andi Mappanyuki ditawan dan dimasukan dalam penjara bersama beberapa orang pasukannya. Andi Mapanyukki di asingkan ke selayar selama kerang lebih tiga tahun sebagai tahanan perang.
Pada tahun 1909 Gubernur Jenderal Sulawesi AJ. Baron De Quarles membebaskan Andi Mappanyuki dengan tujuan untuk memberikan jabatan regan di kawasan Gowa Barat dengan Gaji 400 golden  karena pada pemerintah colonial belanda gagal dalam usaha itu mengikat ketaatan rakyat. Namun Andi Mappanyukki tetap menonaknya dengan halus.



Naik tahta di Bone
Pada 2 April 1931 melalui Sidang Ade Pitue dilakukan musyawarah dan mufakat dan memilih Andi Mappanyuki untuk dinobatkan sebagai Raja Bone ke XXXII dengan gelar Sultan Ibrahim, sehingga beliau bernama lengkap Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim. Ketika dilantik beliau bernama La Mappanyuki ( Bugis ) atau I Mappanyuki ( Makasar ) dan diberi gelar Datue Ri Silaja, karena pernah dibuang Belanda ke Pulau Selayar pada tahun 1907 saat berperang bersama ayah, paman dan saudaranya melawan Belanda (1905-1907).
Dia dengan tegas  menolak bekerja sama dengan Belanda. "Aku tidak buta dengan mentega, dan mulut saya tidak dapat ditutup dengan roti, dan tidak bisa saya menjadi licin dengan susu," kata Mappanyukki yang dikutip surat kabar Kebenaran di Makassar. Ucapan itu juga menyebabkan Kebenaran hanya sekali terbit, sebab langsung dibreidel pemerintah Belanda.
Karena menolak bersekutu dengan Belanda, ia diturunkan sebagai Raja Bone oleh kekuasaan Belanda. Ia kemudian diasingkan selama 3,5 tahun di rantepao, Tanah Toraja Selawasi Selatan. Mappanyukki wafat tanggal 1967 di Jongaya, tempat ia dilahirkan. Makamnya diletakkan di pemakaman raja-raja Gowa atau Bone lazimnya, tetapi oleh pemerintah diletakkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar dengan upacara kenegaraan.
Kepribadian dan integritasnya sebagai pejuang yang pantang menyerah kepada Belanda menjadi suri teladan bagi putra-putra beliau untuk turut berjuang. Hal ini diteladani Andi Pangerang Petta Rani dan Andi Abdullah Bau Massepe yang dikenal juga sebagai pejuang kemerdekaan yang berasal dari Sulawesi selatan.
Berkat perjuangan dan jasa-jasanya kepada bangsa dan negara. Pada tanggal 10 November 2004 Pemerintah RI. menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional sebagai penghormatan tertinggi dari negara dan bangsa Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI No: 089/TK/TH 2004 tanggal 5 November 2004
Jalan Andi Mappanyukki berada di wilayah Kecamatan Mariso. Kedua ujung jalan ini bersentuhan dengan Jl Lasinrang dan Jl Stadion, Stadion Mattaoanging Andi Mattalatta. Pertengahan jalan itu dibelah oleh Jl kasuari.

                         
DAFTAR BACAAN

Hamid Abdul, 2007,Sejarah Bone. Watampone : Dinas Kebudayaan dan Parawisata.
Ka.Balai Kajian Jarahnitra Makassar. 2005  Buletin Bosara “Media Informasi dan Budaya SulSel”. Makassar :
Rady Lina Andi, 2007, Riwayat to Bone, Watampone :Dinas Kebudayaan dan Parawisata.

A. Abdullah Bau Massepe

Pahlawan selalu identik dengan jasa-jasa atau pengorbanan-pengorbanan dalam mempertahankan kemerdekaan negaranya dari para penjajah yang datang di tanah airnya. Sama seperti sosok pahlawan yang satu ini. Beliau merupakan salah satu dari sekian banyak pahlawan yang mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Beliau adalah Andi Abdullah Bau Massepe. Mungkin banyak yang masih asing dengan nama tersebut, namun beliau mempunyai jasa yang sangat besar dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia terkhusus di Sulawesi Selatan. 
A. Abdullah Bau Massepe merupakan sosok yang bermasyarakat. Beliau tidak membeda-bedakan dirinya dengan para rakyatnya. Beliau tidak segan-segan bergaul dengan rakyatnya. Beliau juga merupakan sosok yang mempunyai sifat kepemimpinan yang tinggi, sifat tersebut dalam dilihat dari beberapa perjuangannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia khususnya di daerah Sulawesi Selatan.
A. Abdullah Bau Massepe lahir di Massepe, Sulawesi Selatan pada tahun 1918. Beliau merupakan keturunan bangsawan pada masanya. Beliau merupakan putera dari  seorang Raja di Kerajaan Bone yaitu Andi Mappanyukki, iparnya adalah Raja Luwu yaitu Andi Djemma, serta kakaknya adalah Mantan Gubernur yaitu Andi Pangerang Petta Rani. Pada tahun 1931, setelah menammatkan pendidikan di Inlandsche School, beliau bekerja di kantor Kewedanan di Pinrang. Pada tahun 1940, pemerintah Hindia Belanda mengangkatnya sebagai Datu (raja) Suppa. Jabatan sebagai Datu Suppa dengan gelar Sucoo dipegangnya sampai berakhirnya masa pendudukan Jepang.
Pada tahun 1945, di Makassar, didirikan organisasi Sumber Darah Rakyat (SUDARA). Organisasi Sudara dipimpin oleh Dr. G.S.S.Y. Ratulangi. Ayahnya, Andi Mappanyukki menjabat sebagai penasehat. A. Abdullah Bau Massepe menyambut berdirinya organisasi itu dengan mendirikan cabang Sudara di Pare-pare.
Pada permulaan proklamasi 17 Agustus 1945, Bau Massepe ditempatkan di daerah Pare-pare sebagaiKepala Afdeling dari Republik Indonesia dan menjadikan payung tempat bernaung jiwa revolusi dari angkatan muda daerah itu.
Pada masa kemerdekaan, A. Abdullah Bau Massepe mendirikan Penunjang Republik Indonesia (PRI) dan menyatakan Pare-pare sebagai bagian dari Republik Indonesia. PRI kemudian berubah nama menjadi Badan Penunjang  Republik Indonesia (BPRI), kemudian menjadi Badan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI).
Mempertahankan kemerdekaan negara bukanlah hal yang mudah. Butuh kerja keras, usaha, dan jiwa kebangsaan, begitu pula dengan Andi Abdullah Bau Massepe. Periode mempertahankan kemerdekaan ini belangsung pada tahun 1945-1949. Beliau menerima berita proklamasi pada tanggal 19 Agustus 1945 dan kabar datangnya bangsa Belanda melalui radio miliknya. Dari kabar yang didengarnya, kemudian Bau Massepe mengajak beberapa para tokoh republiken untuk melakukan perlawanan terhadap bangsa Belanda. Salah satu usaha Bau Massepe dalam melakukan perlawanan tersebut yaitu dengan memerintahkan beberapa orang yang telah berpengalaman dalam perang Dunia II untuk melatih para pemuda menggunakan senjata api dan taktik dalam berperang.
Sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa A. Abdullah Bau Massepe merupakan sosok yang mempunyai sifat kepemimpinan yang tinggi, ini terbukti saat kondisi kritis melanda daerah Sulawesi Selatan dalam mempertahankan kemerdekaan dan perlawanan terhadap bangsa Belanda. Salah satu kondisi kritis yang dimaksud adalah adanya pencarian para tokoh pejuang kemerdekaan yang dilakukan oleh bangsa Belanda dengan menggunakan orang-orang tertentu yang dalam artian mata-mata bangsa Belanda atau pajello. Karena hal tersebut banyak tokoh pejuang yang terpaksa meninggalkan Sulawesi Selatan kemudian ke Jawa, hal tersebut bukan karena para tokoh pejuang ingin meninggalkan Sulawesi Selatan begitu saja dalam kondisi sulit, namun mereka pergi karena ingin mencari tempat persembunyian yang aman dan tidak diketahui oleh bangsa Belanda, serta perginya para tokoh pejuang tersebut juga merupakan strategi perjuangan yang dilakukan oleh para tokoh pejuang, dan nantinya mereka akan kembali lagi ke daerah Sulawesi Selatan.
Perginya beberapa tokoh pejuang ke pulau Jawa tidak lepas dari peran A. Abdullah Bau Massepe. Kesemuanya adalah perintah dari Bau Massepe. Namun, saat para tokoh pejuang memilih mengikuti perintah Bau Massepe ada hal yang dipertanyakan oleh banyak orang, yaitu mengapa beliau (Bau Massepe) tidak ikut pergi ke pulau Jawa bersama beberapa tokoh pejuang lainnya? Jawaban yang didapatkan dari berbagai sumber sangat berkesan. Ketidakpergiaan Bau Massepe ke pulau Jawa memang merupakan keinginannya sendiri. Menurut Letkol. Andi Selle, alasan yang dikemukakan oleh Bau Massepe ialah “kalau ia meninggalkan Sulawesi Selatan, khususnya daerah Ajatappareng, maka perjuangan akan mengalami kesulitan, karena tidak ada pemimpin yang akan menjadi “pegangan” kepemimpinan”.
Pada tanggal 20 Januari 1947 diadakan pertemuan konsolidasi dan persiapan pembentukan TRI yang dilaksanakan di paccekke, pertemuan ini biasa dikenal dengan Konferensi Paccekke. Hasil dari konferensi tersebut yaitu menyepakati untuk mengangkat A. Abdullah Bau Massepe sebagai komandan Divisi TRI di Sulawesi Selatan – Tenggara. Namun, pada saat pengangkatannya sebagai komandan Divisi TRI di Sulawesi Selatan – Tenggara, beliau berhalangan hadir. Banyak spekulasi menyatakan bahwa, tidak hadirnya beliau pada saat pengangkatan tersebut karena di saat yang bersamaan A. Andi Abdullah Bau Massepe telah ditembak mati oleh Westerling dan pasukan-pasukannya. A. Abdullah Bau Massepe memang merupakan salah satu pemimpin Gerilya Republik yang berhasil ditembak oleh Westerling dengan pasukan-pasukannya. 
Pada tanggal 17 Oktober 1946, A. Abdullah Bau Massepe ditangkap oleh Belanda jam 13.00 dan kemudian beliau dibawa ke Makassar untuk diadakan pemeriksaan. Kemudian pada tanggal 15 Januari 1947, A. Abdullah Bau Massepe dibawa ke Pinrang untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dan ternyata disana telah dikumpulkan para pejuang-pejuang kemerdekaan pada ssat itu untuk ditembak mati.
Pada awal Februari 1947 terjadi pembantaian di Kampong Kariango Pinrang terhadap para pejuang, dan pada waktu yang sama terjadi pula pembantaian Westerling di Kota Pare-pare di stasion oto yang lama dengan para pejuang lainnya. Salah satu pejuang yang ditembak mati oleh Westerling dan pasukannya di kota Pare-pare pada tanggal 2 Februari 1947 adalah A. Abdullah Bau Massepe.
Setelah peristiwa penembakan itu tidak ada yang tahu dimana keberadaan jenazah dari A. Abdullah Bau Massepe tersebut. Karena memang pembunuhan tersebut diusahakan oleh Westerling untuk tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Namun, karena kesetiaan rakyat terhadap Datunya, ada seseorang warga yang melihat jenazah beliau dikuburkan setelah ditembak mati. Karena hal itu jenazah A. Abdullah Bau Massepe dapat ditemukan.
Dengan penuh kehormatan pada 19 Agustus 1950, makam A. Abdullah Bau Massepe digali kemudian di pindahkan dan dimakamkan di Taman Bahagia, Cappagalung 4 Km dari Kota Pare-pare yang merupakan Taman Makam Pahlawan di Pare-pare.
Tahun 1959 tanggal 12 Agsutus 1959 Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 175 Tahun 1959, memutuskan menetapkan Penganugrahan Bintang Gerilya secara anumerta kepada A. Abdullah Bau Massepe pangkat Bupati dengan jabatan Eks Kepala Daerah Kabupaten Pare-pare.
Tahun 2005 tanggal 7 Nopember 2005 Presiden Republik Indonesia menganugrahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana kepada A. Abdullah Bau Massepe pangkat- dengan jabatan Tokoh Pejuang dari Sulawesi Selatan dengan Keputusan Presiden No. 082 Tahun 2005. Dan pada waktu yang bersamaan Presiden Republik Indonesia menganugrahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada A. Abdullah Bau Massepe berdasarkan SK No. 082/TK/2005 tanggal 7 Nopember 2005.
Semasa hidupnya, Andi Abdullah Bau Massepe memiliki tiga orang istri, pertama, Andi Maccaya yang melahirkan seorang puteri bernama Andi Habibah , kedua, Puang Linge Daeng Singara melahirkan seorang putera bernama Andi Baso Ibrahim dan seorang puteri bernama Bau Tenne, ketiga, pada tahun 1933 beliau menikah lagi dengan Andi Soji Datu/Petta Kanjenne yang melahirkan 4 orang anak bernama : Bau Kuneng, Bau Ammessangeng, Bau Dalauleng dan Bau Fatimah.
Pemerintah Sulawesi Selatan juga memberikan penghargaan dan penghormatan atas jasa dan pengorbanan kepada A. Abdullah Bau Massepe sebagai tokoh pejuang dari Sulawesi Selatan dengan menggunakan nama beliau untuk dijadikan nama sebuah jalan di Ibukota Sulawesi Selatan (Makassar).
Pemberian nama jalan dengan menggunakan nama A. Abdullah Bau Massepe merupakan suatu bentuk apresiasi serta penghormatan pemerintah Sulawesi Selatan terhadap beliau dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia khususnya di daerah Sulawesi Selatan.
Jalan Bau Massepe ini terletak tidak jauh dari ikon Kota Makassar yaitu Pantai Losari. Jalan ini terletak di sekitar beberapa jalan yang menggunakan nama tokoh pejuang Sulawesi Selatan lainnya, contohnya Jl. Ranggong Dg. Romo
Untuk sampai ke jalan Bau Massepe tersebut, kita dapat menggunakan transportasi umum, seperti taksi dan bentor, namun jalan ini lebih mudah dijangkau jika menggunakan transportasi pribadi baik motor atau mobil.
Satu hal yang bisa kita petik dari cerita perjuangan A. Abdullah Bau Massepe ini adalah jika ingin disukai, dicintai oleh rakyat, maka pemimpin harus lebih dulu cinta kepada rakyatnya. Sama halnya dengan A. Abdullah Bau Massepe yang mempunyai sifat kepemimpinan yang tinggi,  yang lebih mementingkan rakyat dibandingkan dirinya sendiri, yang tidak membeda-bedakan dirinya dengan rakyat, dan yang rela mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan negaranya yaitu Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Amir,Muhammad , Arfah,Muhammad , Arifah ,St , Kila,Syahrir , Faisal , Rahim,Abdul . 2008 . Pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan . Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan : Makassar
Gonggong, Anhar. 2009.  Sulesana : Jurnal Sejarah Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata : Baali Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar : Makassar
Rizal,Hanabi. Tika, Zainuddin. Syam, M.Ridwan. 2007. Profil Raja dan Pejuang Sulawesi Selatan 1. Penerbit Refleksi : Makassar.

Tim Redaksi Pustaka Timur. 2009. Profil 143 Pahlawan Indonesia. Pustaka Timur : Yogyakarta